Dalam pusaran kehidupan modern, dengan segala kompleksitas dan percepatannya, kita sering kali merasa terombang-ambing, terpecah-belah, seolah diri kita dan dunia di sekitar kita merupakan kumpulan bagian-bagian yang terpisah, saling bersaing, dan penuh konflik. Perasaan fragmentasi ini, yang meresap dalam masyarakat, hubungan antarmanusia, bahkan dalam kedalaman jiwa individu, menjadi sumber penderitaan dan kebingungan yang mendalam. David Bohm, seorang fisikawan visioner yang juga menekuni ranah filsafat, dalam karyanya yang seminal, Wholeness and the Implicate Order, menawarkan sebuah diagnosis yang radikal sekaligus penuh harapan: fragmentasi yang kita alami dan rasakan ini bukanlah sifat dasar realitas, melainkan sebuah ilusi yang muncul dari cara persepsi dan pemikiran kita yang terbatas. Ia mengajukan gagasan bahwa pada inti terdalam eksistensi, segala sesuatu saling terhubung, terjalin erat dalam sebuah keutuhan yang tak terpisahkan, sebuah implicate order (tatanan tersirat) yang menjadi dasar dari segala fenomena yang tampak terpisah (explicate order). Melihat pemikiran Bohm ini melalui lensa tradisi-tradisi esoteris, theosofi, dan filsafat perenial bukan hanya memperkayanya, tetapi membukakan pintu bagi pemahaman yang lebih dalam tentang keutuhan ini sebagai prinsip metafisik dan spiritual yang fundamental, sekaligus menawarkan jalan keluar dari krisis fragmentasi modern.
Bohm mengamati dengan cermat bagaimana kehidupan kontemporer didominasi oleh fragmentasi. Kita melihatnya dalam pemisahan disiplin ilmu pengetahuan yang rigid, dalam konflik politik dan ideologi yang tak berkesudahan, dalam disosiasi antara manusia dan alam, bahkan dalam keterpecahan batiniah individu – konflik antara pikiran dan perasaan, antara rasionalitas dan intuisi, antara hasrat dan nilai. Masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok yang sering kali saling curiga dan bermusuhan. Alam dilihat sebagai sumber daya yang tak terbatas untuk dieksploitasi demi kepentingan ekonomi sempit, bukan sebagai bagian integral dari keberadaan kita sendiri. Pada tingkat individu, kita mengalami konflik internal yang melelahkan, perasaan keterasingan, dan kegelisahan eksistensial yang bersumber dari perasaan terpisah dari diri yang lebih dalam, dari sesama, dan dari kosmos. Bohm berpendapat bahwa kecenderungan bawaan pikiran manusia untuk membagi-bagi, mengkategorikan, dan menganalisis – meskipun berguna secara instrumental dalam konteks praktis tertentu – telah melampaui batasnya. Kita telah mengira bahwa pembagian konseptual yang kita buat untuk memahami dunia ini adalah refleksi akurat dari struktur realitas itu sendiri. Kita terjebak dalam ilusi fragmentasi.
Di sinilah pandangan esoteris klasik menemukan resonansi yang kuat dengan diagnosis Bohm. Tradisi-tradisi kebijaksanaan kuno – mulai dari Hermetisisme, filsafat Veda (Advaita Vedanta), Buddhisme, Kabbalah, Sufisme, hingga ajaran-ajaran mistis Timur lainnya – sejak dahulu kala telah menyuarakan peringatan serupa. Mereka menyatakan bahwa perasaan keterpisahan ini, yang menjadi akar dari segala penderitaan (dukkha) dan konflik, bersumber pada hilangnya kesadaran akan “Kesatuan Sejati” atau “Sumber” yang tak terbagi. Dalam terminologi Veda, ini adalah avidya (ketidaktahuan) akan Brahman, Realitas Mutlak yang non-dual. Dalam Buddhisme, ini adalah kegagalan memahami sunyata (kekosongan) dan saling ketergantungan segala sesuatu (pratityasamutpada). Hermetisisme menyatakan “Apa yang di atas sama dengan apa yang di bawah”, menekankan kesatuan mikrokosmos dan makrokosmos. Fragmentasi, oleh karenanya, dipahami sebagai manifestasi dari maya, sebuah ilusi, sebuah tirai yang menutupi keesaan hakiki yang mendasari keragaman fenomena yang tampak. Maya bukan berarti dunia ini tidak nyata sama sekali, melainkan bahwa realitas sejatinya tidak seperti yang tampak oleh indera dan pikiran biasa yang terfragmentasi; ia menyembunyikan kesatuan di balik keragaman. Bohm, meskipun berasal dari tradisi ilmiah, secara mengejutkan sejalan dengan inti pandangan ini. Ia melihat fragmentasi persepsi dan konseptual kita sebagai sumber utama konflik, baik internal maupun eksternal, yang merusak tatanan individu dan kolektif.
Konsekuensi dari hilangnya kesadaran akan keutuhan ini, sebagaimana diuraikan baik oleh Bohm maupun perspektif esoteris, adalah meluasnya pandangan dunia yang materialistik dan reduksionis. Manusia yang terperangkap dalam ilusi keterpisahan cenderung memandang dirinya sebagai entitas yang terisolasi, sebuah “ego” yang terkurung dalam tubuh fisik, terpisah dari ego-ego lain, terpisah dari lingkungan alamnya yang dianggap hanya sebagai objek mati, dan bahkan terpisah dari aspek-aspek terdalam dari dirinya sendiri – jiwa, spirit, atau kekuatan hidup yang menghubungkannya dengan kosmos. Pandangan ini memunculkan hubungan eksploitatif terhadap alam, di mana bumi dan segala isinya dilihat semata-mata sebagai komoditas untuk dikonsumsi demi keuntungan dan kenikmatan sesaat. Hal ini telah membawa kita pada krisis ekologis yang akut. Di tingkat psikologis, keterpisahan dari diri sejati menghasilkan berbagai bentuk penderitaan emosional: kecemasan, depresi, rasa tidak berharga, dan konflik batin yang kronis, karena ego yang terisolasi terus-menerus berjuang untuk keamanan, pengakuan, dan kepuasan dalam dunia yang dianggap asing dan mengancam. Theosofi, yang berusaha mensintesis kebijaksanaan kuno dengan pemahaman modern, menggambarkan hal ini sebagai keterpisahan dari “Diri Tinggi” atau “Atma”, yang pada hakikatnya adalah percikan dari Kesadaran Universal. Fragmentasi eksternal dalam masyarakat – prasangka, perang, ketidakadilan – adalah cerminan dari fragmentasi internal ini, yang bersumber pada kegagalan mengenali kesatuan esensial seluruh umat manusia sebagai bagian dari satu Kehidupan yang sama.
Bohm tidak menafikan bahwa proses pemisahan dan pembagian memiliki fungsi praktis yang penting. Dalam aktivitas teknis, ilmiah, dan kehidupan sehari-hari, kemampuan untuk memfokuskan perhatian pada bagian-bagian tertentu, menganalisis detail, dan mengkategorikan informasi adalah sangat berguna. Ini memungkinkan kita membangun teknologi, mengembangkan spesialisasi, dan mengelola kompleksitas dunia yang tampak. Namun, baik Bohm maupun pandangan esoteris memberikan peringatan kritis yang sama: ketika mekanisme pemisahan konseptual ini diangkat menjadi pandangan dunia yang absolut, ketika kita menganggap bahwa realitas pada dasarnya terdiri dari bagian-bagian yang terpisah-pisah, dan terutama ketika pendekatan ini diterapkan pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna hidup, kesadaran, dan hubungan kita dengan keseluruhan eksistensi, maka kita akan terjerumus ke dalam kesalahan yang fatal. Kita menjadi terputus dari keutuhan kosmik yang menjadi sumber kehidupan dan makna. Tradisi-tradisi esoteris dengan tegas menyatakan bahwa memandang dunia semata-mata sebagai “kumpulan bagian-bagian” adalah kebodohan spiritual (avidya dalam Vedanta). Kabbalah berbicara tentang Tikkun Olam (memperbaiki dunia), yang pada hakikatnya melibatkan pengembalian kesadaran akan kesatuan yang mendasari keragaman yang terpecah akibat “Pecahan Wadah” (Shevirat ha-Kelim). Filsafat Sufi menekankan Wahdat al-Wujud (Kesatuan Wujud), di mana segala sesuatu adalah manifestasi dari Realitas Tunggal (Al-Haqq). Pemisahan adalah alat sementara untuk menavigasi dunia fenomena (maya, samsara), tetapi bukan kebenaran tertinggi (Brahman, Nirvana, Tao). Mengabdi pada alat ini sebagai realitas sejati adalah sumber penderitaan dan kesesatan.
Bohm mengembangkan gagasannya lebih jauh dengan memperkenalkan konsep Implicate Order (Tatanan Tersirat) sebagai inti dari keutuhan ini. Ia mengusulkan bahwa di balik tatanan eksplisit (explicate order) yang kita amati sehari-hari – dunia benda-benda terpisah, ruang dan waktu linier, hubungan sebab-akibat lokal – terdapat tatanan yang lebih mendalam dan mendasar di mana segala sesuatu saling terkait dan saling meliputi. Dalam tatanan tersirat ini, informasi tentang keseluruhan terkandung secara terlipat di dalam setiap bagian, dan setiap bagian secara dinamis terkait dengan keseluruhan. Analogi favorit Bohm adalah tetesan tinta yang diaduk dalam silinder gliserin: ketika diaduk, tinta tampak terfragmentasi dan tersebar (tatanan eksplisit), tetapi ketika diaduk ke arah sebaliknya, tinta kembali menyatu menjadi tetesan utuh (mengungkap kembali tatanan tersirat yang selalu ada). Dunia fenomena yang kita lihat adalah manifestasi yang “terbuka” atau “terungkap” dari tatanan yang tersembunyi dan terlipat ini. Keutuhan bukanlah hasil dari menyatukan bagian-bagian yang pada awalnya terpisah; keutuhan adalah sifat dasar yang mendahului dan meliputi segala manifestasi parsial.
Perspektif esoteris dan theosofis menemukan dalam konsep Implicate Order ini sebuah gema yang sangat kuat dari pemahaman metafisik mereka tentang realitas. Mereka melihat tatanan tersembunyi ini sebagai ekspresi dari “Keutuhan Ilahi”, “Kesadaran Universal”, atau “Realitas Mutlak”. Dalam Theosofi, ini terkait erat dengan konsep Anima Mundi (Jiwa Dunia) atau Akasha – sebuah bidang kesadaran atau eter kosmik yang menjadi penyimpanan semua peristiwa, pikiran, dan potensi, serta medium yang menghubungkan segala sesuatu. Akasha adalah “Buku Catatan Alam Semesta” yang darinya segala bentuk muncul dan ke mana segala bentuk kembali. Filsafat Veda menggambarkan Brahman sebagai dasar non-dual yang darinya seluruh manifestasi alam semesta (maya) muncul, dipertahankan, dan akhirnya larut kembali. Sufisme berbicara tentang Alam al-Mithal (Dunia Citra) atau Al-Lawh al-Mahfuz (Loh Terpelihara), tempat segala bentuk potensial dan pola-pola ilahi tersimpan. Gagasan Bohm bahwa dunia material adalah manifestasi yang “terungkap” dari tatanan yang lebih dalam ini paralel dengan pandangan esoteris bahwa dunia fisik (prakriti dalam Sankhya, alam al-mulk dalam Sufisme) adalah emanasi, proyeksi, atau kristalisasi dari realitas spiritual atau kesadaran yang lebih halus dan mendasar. Dunia bukanlah ilusi mutlak, tetapi ia adalah ekspresi atau “penjelmaan” (theophany) dari Yang Ilahi dalam bentuk materi dan energi. Apa yang Bohm sebut sebagai explicate order adalah lapisan manifestasi yang paling padat dan terpisah-pisah dari realitas yang jauh lebih dalam dan menyatu.
Bohm, yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Timur (terutama Krishnamurti) dan pemikiran mistis, melihat keutuhan ini sebagai sifat dasar realitas yang tak terbantahkan. Implicate Order adalah medan di mana segala sesuatu saling berpartisipasi secara mendalam. Dalam terminologi esoteris, memahami koneksi pada tingkat terdalam ini – menyadari bahwa setiap atom, setiap makhluk hidup, setiap pikiran dan perasaan adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan kesadaran kosmik (Akasha, Brahman, Tao, Allah) – adalah kunci untuk melampaui pandangan materialistik yang sempit dan ilusi fragmentasi yang dangkal. Ini bukan hanya pemahaman intelektual, tetapi sebuah pergeseran kesadaran yang mendalam. Menyadari keutuhan berarti mengenali bahwa “diri” yang terpisah hanyalah konstruksi sementara dalam drama kosmik, dan identitas sejati kita adalah bagian dari, atau bahkan identik dengan, Kesadaran Universal itu sendiri (Tat Tvam Asi – “Itulah Engkau” dalam Upanishad). Pandangan Theosofis tentang rantai keberadaan yang hirarkis namun terpadu, dari Yang Tak Termanifestasi hingga ke mineral, mencerminkan gagasan bahwa semua level realitas adalah ekspresi dari Keutuhan yang sama, hanya dalam tingkat “kepadatan” atau kesadaran yang berbeda.
Lalu, bagaimana kita mengatasi ilusi fragmentasi yang begitu mengakar? Bohm menawarkan solusi yang halus namun mendalam, yang sekali lagi selaras dengan kebijaksanaan esoteris. Ia memperingatkan bahwa mencoba mengatasi fragmentasi dengan memaksakan integrasi, dengan mencoba menyatukan secara paksa berbagai sudut pandang atau kelompok yang terpecah, justru akan kontraproduktif. Pendekatan semacam itu masih beroperasi dalam paradigma fragmentasi itu sendiri – mencoba menciptakan kesatuan artifisial dari bagian-bagian yang dianggap terpisah, yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan konflik baru dan bentuk fragmentasi yang lebih halus. Sebaliknya, Bohm menyarankan agar kita mengembangkan pemahaman bahwa setiap cara pandang, setiap teori, setiap perspektif – bahkan yang saling bertentangan sekalipun – pada dasarnya hanyalah salah satu aspek dari realitas yang jauh lebih luas dan kompleks yang belum sepenuhnya kita pahami. Tidak ada satu pun sudut pandang yang dapat mengklaim kebenaran mutlak atau merepresentasikan keseluruhan.
Prinsip ini menemukan padanan langsung dalam konsep esoteris tentang “kebenaran parsial”. Ajaran-ajaran kebijaksanaan kuno memahami bahwa pikiran manusia yang terbatas hanya dapat menangkap fragmen-fragmen dari Kebenaran Mutlak yang tak terbatas. Setiap filosofi, setiap agama, setiap sistem pengetahuan, mengandung sepotong kebenaran, sebuah sudut pandang tertentu tentang keutuhan yang tak terpahami. Hermetisisme menyatakan “Semua kebenaran adalah setengah kebenaran; semua paradoks dapat didamaikan pada tingkat yang lebih tinggi.” Sufisme sering menggunakan kisah para buta dan gajah untuk menggambarkan hal ini: setiap orang menggambarkan bagian yang disentuhnya (kaki, telinga, belalai) dengan benar, tetapi keliru menganggapnya sebagai keseluruhan gajah. Tugas kita bukanlah mempertentangkan sudut pandang parsial ini secara membabi buta, melainkan mengenali keterbatasannya masing-masing dan mencari pemahaman yang lebih luas yang dapat mencakup dan melampauinya (coincidentia oppositorum – penyatuan hal-hal yang berlawanan). Dalam filsafat proses Alfred North Whitehead, yang memiliki resonansi dengan Bohm dan esoterisisme, ini adalah gerak menuju “kecocokan yang semakin luas” (wider conformability) dari pengalaman.
Untuk mencapai kesadaran akan keutuhan ini, baik Bohm maupun tradisi esoteris menekankan perlunya melampaui pikiran konseptual biasa yang cenderung membagi-bagi. Bohm berbicara tentang pentingnya “persepsi tanpa pemilih” dan “dialog” yang mendalam – sebuah proses komunikasi di mana peserta tidak mempertahankan posisi tetap, tetapi bersama-sama menyelidiki asumsi dan alur pemikiran, memungkinkan pemahaman kolektif yang lebih luas muncul. Namun, tradisi esoteris telah mengembangkan jalan-jalan sistematis selama ribuan tahun untuk mengatasi keterbatasan pikiran diskursif dan membuka kesadaran pada keutuhan. Praktik-praktik seperti meditasi (dalam Buddhisme, Hindu Yoga, Taoisme), kontemplasi (dalam mistisisme Kristen, Sufisme), doa hening, dan berbagai bentuk disiplin spiritual dirancang untuk menenangkan gelombang pikiran yang tak henti (citta vritti dalam Yoga Sutra Patanjali), memperluas kesadaran, dan akhirnya mengalami secara langsung kesatuan dengan Sumber atau dasar realitas. Dalam keadaan meditatif yang dalam, batas-batas ego yang artifisial dapat melunak atau larut sementara, memungkinkan individu mengalami perasaan keterhubungan yang mendalam dengan segala sesuatu, perasaan menjadi bagian dari suatu keutuhan yang lebih besar. Yoga, secara harfiah berarti “penyatuan”, bertujuan untuk menyatukan kesadaran individu (jivatman) dengan kesadaran universal (paramatman). Praktik-praktik Kabbalistik seperti Kavanah (niat terfokus) dan Yichudim (penyatuan) bertujuan menyatukan kembali aspek-aspek ilahi yang tampak terpisah dalam jiwa dan kosmos. Theosofi menekankan pengembangan kesadaran spiritual dan intuisi batiniah sebagai sarana untuk memahami kebenaran yang lebih tinggi yang melampaui rasio semata. Melalui praktik-praktik ini, manusia tidak hanya memahami secara intelektual, tetapi mengalami secara langsung bahwa keterpisahan adalah ilusi, dan bahwa segala sesuatu berpartisipasi dalam sebuah jaringan kehidupan dan kesadaran yang tak terpisahkan. Dengan kesadaran ini, manusia dapat mengatasi keterpisahan mental yang kaku, mengembangkan welas asih dan empati yang lebih besar (karena melihat diri orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri), dan membuka diri untuk menerima realitas dalam keutuhannya yang dinamis dan kompleks, bukan dalam kotak-kotak konseptual yang sempit.
Kesimpulan yang ditarik oleh David Bohm dalam Wholeness and the Implicate Order adalah sebuah kebenaran yang menggema sepanjang zaman dalam ruang-ruang kebijaksanaan esoteris dan filosofis: Keutuhan (Wholeness) bukanlah konsep abstrak atau tujuan yang harus dicapai; ia adalah sifat dasar dan hakiki dari realitas itu sendiri. Fragmentasi yang kita alami dalam kehidupan individu dan kolektif adalah produk dari persepsi yang terbatas, dari cara kerja pikiran yang membagi-bagi, dan dari hilangnya kesadaran akan hubungan kita yang mendalam dengan seluruh jaringan eksistensi. Ilusi keterpisahan ini bukan hanya masalah psikologis atau sosiologis; ia adalah tantangan spiritual yang mendasar. Perspektif esoteris dan theosofis memperkaya dan memperdalam pemahaman ilmiah-filosofis Bohm dengan menempatkan keutuhan ini dalam kerangka kosmik dan metafisik yang lebih luas. Keutuhan bukan hanya fenomena fisik atau konsep filosofis; ia adalah Tatanan Ilahi itu sendiri, sebuah Kesadaran Universal (Akasha, Brahman, Tao, Ein Sof) yang tak terbatas dan tak terbagi, yang darinya seluruh alam semesta memanifestasikan diri sebagai ekspresi yang beraneka ragam namun pada dasarnya bersatu.
Mengatasi fragmentasi, oleh karena itu, bukanlah tugas teknis atau politis semata, melainkan perjalanan kesadaran. Ia memerlukan transformasi radikal dalam cara kita memandang diri sendiri, dunia, dan hubungan kita dengan keseluruhan. Menyadari keutuhan berarti menyadari bahwa konflik eksternal bersumber pada konflik internal yang didasari oleh ilusi keterpisahan. Menyadari keutuhan berarti melihat alam bukan sebagai benda mati untuk dieksploitasi, tetapi sebagai bagian dari tubuh kita yang lebih luas, sebagai ekspresi dari kehidupan yang sama yang mengalir dalam diri kita. Menyadari keutuhan berarti menemukan kedamaian batin yang muncul dari mengetahui bahwa kita tidak pernah, dan tidak akan pernah, benar-benar terpisah dari Sumber segala kehidupan dan makna. Kesadaran akan keutuhan inilah yang ditawarkan baik oleh fisika Bohm maupun kebijaksanaan esoteris abadi sebagai solusi mendasar bagi kebingungan, konflik, dan penderitaan yang dihasilkan oleh ilusi fragmentasi dalam kehidupan modern. Ini adalah jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi, menuju pengakuan dan pengalaman langsung akan Kesatuan Sejati yang mendasari segala keragaman yang mempesona dalam ciptaan. Dalam cahaya keutuhan ini, fragmentasi perlahan-lahan larut, mengungkapkan pola yang indah dan saling terhubung dari tatanan tersirat yang selalu ada, menunggu untuk disadari.
Referensi:
1. Karya David Bohm
- Bohm,
David. Wholeness and the Implicate Order. Routledge, 1980.
(Karya utama Bohm yang membahas konsep keutuhan, tatanan tersirat, dan kritik terhadap fragmentasi.) - Bohm,
David. Thought as a System. Routledge, 1992.
(Membahas bagaimana pemikiran manusia menciptakan ilusi fragmentasi.) - Bohm,
David, dan Jiddu Krishnamurti. The Ending of Time. HarperOne,
1985.
(Dialog antara Bohm dan Krishnamurti tentang kesadaran, waktu, dan realitas.)
2. Literatur Esoteris dan Mistisisme
- Hermetisisme:
- The Corpus Hermeticum (terjemahan Brian P. Copenhaver).
- The Kybalion (anonim, dikaitkan dengan Three Initiates).
- Advaita Vedanta:
- Shankara. Crest-Jewel of Discrimination (Vivekachudamani).
- Upanishads (khususnya Mandukya, Chandogya, dan Brihadaranyaka).
- Buddhisme:
- Nagarjuna. Mulamadhyamakakarika (Dasar-dasar Jalan Tengah).
- Thich Nhat Hanh. The Heart of Understanding (tentang Prajnaparamita).
- Kabbalah:
- Zohar (karya utama Kabbalah Yahudi).
- Scholem, Gershom. Major Trends in Jewish Mysticism.
- Sufisme:
- Ibn Arabi. Fusus al-Hikam (The Bezels of Wisdom).
- Rumi. Mathnawi (puisi mistis tentang kesatuan wujud).
3. Theosofi
- Blavatsky,
H.P. The Secret Doctrine. Theosophical Publishing House, 1888.
(Membahas konsep Akasha, kesatuan kosmik, dan evolusi kesadaran.) - Besant,
Annie, dan Leadbeater, C.W. Thought-Forms. 1901.
(Membahas hubungan antara pikiran, energi, dan realitas.)
4. Filsafat Perenial & Komparatif
- Huxley,
Aldous. The Perennial Philosophy. Harper & Brothers, 1945.
(Membahas kesamaan ajaran spiritual tentang kesatuan realitas.) - Nasr,
Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred.
(Membahas kesatuan ilmu, spiritualitas, dan filsafat.) - Wilber,
Ken. The Spectrum of Consciousness. 1977.
(Integrasi psikologi, spiritualitas, dan fisika modern.)
5. Filsafat dan Sains Modern yang Relevan
- Capra,
Fritjof. The Tao of Physics. 1975.
(Paralel antara fisika kuantum dan mistisisme Timur.) - Whitehead,
Alfred North. Process and Reality. 1929.
(Filsafat proses yang melihat realitas sebagai jaringan dinamis.)
Comments
Post a Comment